Selasa, 24 April 2012

Pengaruh Supervisi dan Iklim Organisasi Terhadap Efektifitas Kerja Guru


BAB 1
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah.
Kemerdekaan yang sudah diraih dengan pengorbanan jiwa dan raga oleh para pejuang bangsa, tidak akan berarti jika kemerdekaan itu tidak diisi dengan pembangunan, bangsa Indonesia ingin merdeka karena bangsa ini sudah tidak tahan hidup menderita dibawah penjajahan, dari kemerdekaan itu bangsa Indonesia mencita-citakan masyarakat yang adil dan makmur, semua itu tentu tidak akan terujud jika kita tidak memiliki sumber daya manusia ( SDM ) yang memadai dan sumber daya manusia (SDM) hanya dapat dicapai melalui pendidikan. Tampa pendidikan suatu bangsa akan terbelakang, tanpa pendidikan bangsa kita tidak akan mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), IPTEK sarana pokok untuk mendukung pembangunan semesta yang meliputi bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, hukum, kesehatan maupun bidang lainya.
Pembangunan bidang pendidikan juga memerlukan SDM yang memadai, sekolah sebagai satu institusi yang membangun pendidikan, membutuhkan SDM yang memadai agar tujuan pendidikan dapat diujutkan.
Di sekolah guru merupakan SDM utama disamping tenaga kependidikan lainya yang menentukan maju mundurnya kualitas pendidikan, sehingga efektifitas kerja guru perlu mendapat perhatian. Urgensi ini tidak mungkin ditawar karena kunci peningkatan kualitas sekolah adalah kualitas gurunya.[1] Penyelenggaraan dan keberhasilan proses pendidikan pada semua jenjang dan satuan pendidikan ditentukan oleh faktor guru, sehingga kualitas guru yang rendah akan berdampak pada rendahnya mutu pendidikan.[2]
Efektifitivitas kerja erat kaitanya dengan lingkungan kerja, lingkungan kerja yang kondusif seperti struktur organisasi yang rapi, hubungan kerja antar anggota yang teratur, lingkungan kerja yang nyaman dan terpenuhinya kebutuhan fisik dan material akan meningkatkan efektifitas kerja, baik organisasi yang rapi, hubungan kerja antar anggota yang teratur, lingkungan kerja yang nyaman dan terpenuhinya kebutuhan fisik dan material merupakan faktor-faktor iklim organisasi, selain faktor itu efektivitas kerja guru dipengaruhi oleh faktor supervisi, seperti jadwal supervisi yang teratur dan materi supervisi, seperti supervisi mngenai pembuatan program tahunan dan program semester, kriteria ketetapan minimal ( KKM)  rencana pembelajaran, penulisan soal, pembuatan analisis, program remedial dan peningkatan kinerja guru.
Mutu Pendidikan menurut Yusufhadi Miarso mengandung lima rujukan, yaitu kesesuaian, daya tarik, efektifitas, efisiensi dan produtifitas.[3] Efektifitas pendidikan seringkali diukur dengan tercapainya tujuan, atau ketepatan dalam dalam mengelola suatu situasi yang dilakukan secara teratur atau berurutan melalui tahap perencanaan, pengembangan, pelaksanaan, penilaian, dan penyempurnaan. Banyak upaya yang dapat dilakukan oleh kepala sekolah sebagai pimpinan untuk meningkatkan efektifitas kerja seorang guru diantaranya meningkatkan kualitas supervisi, menciptakan iklim organisasi yang baik dan sebagainya.
Pemerintah sudah banyak berusaha agar mutu pendidikan meningkat seperti pencantuman anggaran pendidikan 20 % dalam APBN dan perbaikan kurikulum seperti Kurikulum Bebasis Kompetensi dan pelaksanaan ujian nasional semua dimaksudkan untuk meningkatkan  mutu namun usaha itu belum menunjukkan hasil yang memuaskan
Kenyataan yang ada dilingkungan pendidikan hasil belajar siswa masih rendah, Posisi Indonesia menduduki peringkat 10 dari 14 negara berkembang di kawasan Asia Pasifik. Peringkat ini dilansir dari laporan monitoring global yang dikeluarkan lembaga PBB, Unesco. Penelitian terhadap kualitas pendidikan dasar ini dilakukan oleh Asian South Pacific Beurau of Adult Education (ASPBAE) dan Global Campaign for Education. Studi dilakukan di 14 negara pada bulan Maret-Juni 2005. Laporan ini dipublikasikan pada 24 Juni 2005. Rangking pertama diduduki Thailand, kemudian disusul Malaysia, Sri Langka, Filipina, Cina, Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, Indonesia, Nepal, Papua Nugini, Kep. Solomon, dan Pakistan. Indonesia mendapat nilai 42 dari 100 dan memiliki rata-rata E. Untuk aspek penyediaan pendidikan dasar lengkap, Indonesia mendapat nilai C dan menduduki peringkat ke 7. Pada aspek aksi negara, Republik Indonesia memperoleh huruf mutu F pada peringkat ke 11. Sedangkan aspek kualitas input/pengajar, Republik Indonesia diberi nilai E dan menduduki peringkat paling buncit alias ke 14. Indonesia hanya bagus pada aspek kesetaraan jender B dan kesetaraan keseluruhan yang mendapat nilai B serta mendapat peringkat 6 dan 4. “Sangat ironis karena Thailand yang mengalami krisis bisa menempatkan diri menjadi rangking satu,” ujar aktivis LSM Education Network for Justice (E-Net), M Firdaus, saat menjadi pembicara dalam seminar pendidikan mengenai laporan ini di Gedung YTKI, Jl Gatot Soebroto, Jakarta Selatan, Rabu (29/6/2005).
Fenomena Ujian Nasional kini banyak menghantui anak-anak sekolah, banyak hal-hal yang dilakukan mulai dari kegiatan yang mengandung positif hingga negatif sekalipun dilakukan oleh  remaja tersebut, dengan maksud  agar mereka dapat lulus dengan ujian nasional ini. Proyek ujian Nasional ini bergulir sejak tahun 2001 dan mulai dilaksanakan pada tahun 2003 dan kini sudah memasuki tahun kedelapan, adakah kemajuan besar dibidang pendidikan  yang dicapai bangsa ini setelah bergulirnya 8 tahun proyek  UN ini pengetahuan umum dan keterampilan hasil didikan bangku sekolah dan hasil ujian UN sama sekali tidak ada yang dapat diandalkan dari mereka, inilah sekilas hasil didikan umum di negeri ini. seperti yang disampaikan oleh Achmad Efendy dari Aliansi peduli pendidikan, Ujian Nasional banyak berdampak buruk pada anak didik, seperti yang terjadi di Bekasi Jawa barat, ada yang stres lalu bunuh diri (setelah pengumuman kelulusan). Ngamuk-ngamuk dan membakar sekolah,  katanya dalam sebuah jumpa pers di Kantor Komnas HAM, Jakarta, Selasa (12/4).[4]
Oleh karena itu guru perlu mendapat perhatian serius dari kepala sekolah, agar guru dapat mengemban tugasnya dengan efektif sehingga dapat memberikan kontribusi yang nyata bagi output pendidikan yang berkualitas. Dalam kerangka itu maka kepentingan, kebutuhan dan harapan guru perlu diakomodir. Guru sebagai pelaksana pembelajaran dikelas waktu dan tenaganya sudah tersita untuk melaksanakan tugas-tugas dikelas karena itu guru sering tertinggal dengan perkembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu pendidikan yang selalu berkembang baik materi, methoda, media ataupun teknik teknik evaluasi, untuk itu guru perlu mendapat bantuan dari berbagai pihak khususnya yang terkait langsung dengan supervisi pendidikan, menurut Kimball Wiles, supevisi adalah bantuan yang diberlakan untuk memperbaiki situasi belajar mengajar yang lebih baik.[5] Definisi tadi memberi makna supervisi adalah pemberian bantuan oleh kepala sekolah kepada guru untuk perbaikan kegiatan belajar mengajar.
Supervisi merupakan kegiatan administrasi yang dirancang secara khusus untuk membantu bawahan dalam menjalankan tugasnya agar dapat menggunakan pengetahuan dan kemampuanya untuk memberikan layanan yang lebih baik. Hal ini dapat dikatakan bahwa supervisi yang dilakukan merupakan suatu hal yang dibutuhkan dalam upaya perbaikan peningkatan efektifitas kerja.
Kepala sekolah mempunyai tanggung jawab dalam kelancaran proses pendidikan dan kegiatan administrasi sekolah, kepala sekolah juga bertanggung jawab mengawasi, membina dan memotivasi kerja guru dan pegawai lainya sebagai wujud peranya sebagai supervisor. Oleh karena itu kepala sekolah berkewajiban melakukan pembinaan yang berkesinambungan dengan program yang terarah dan sistematis bagi para guru dan tenaga kependidikan yang ada disekolah. Program pembinaan tenaga pendidik dan tenaga kepandidikan  dikenal dengan supervisi pendidikan yang merupakan rangkaian dalam administrasi pendidikan.
Kegiatan supervisi kepala sekolah merupakan kegiatan pembinaan dan pemberi bantuan yang berkesinambungan dengan tujuan membantu guru dalam mengatasi masalah-masalah pendidikan sehingga dengan demikian guru akan merasa percaya diri kembali apalagi didukung dengan iklim organisasi yang baik sehingga mendorong guru untuk meningkatkan efektifitas kerja dalam meningkatkan mutu pendidikan
Selain faktor kualitas supervisi penulis juga ingin melihat iklim organisasi agar guru dapat bekerja dengan baik diperlukan iklim organisasi yang baik, iklim organisasi adalah kualitas lingkungan total dalam sebuah organisasi. Iklim dapat dinyatakan dengan sifat seperti terbuka, tertutup, ramai, hangat, santai, informal, kaku, kekeluargaan dan sebagainya.
Di SMP Negeri Kota Bekasi  upaya upaya meningkatkan kulitas guru melalui kegiatan supervisi dilakukan secara berkala dengan kegiatan-kegiatan seperti workshop dan pelatihan pelatihan lainya diadakan secara berkala setiap tahun yang diikuti oleh seluruh guru-guru dan selain itu guru masih ditugaskan mengikuti kegiatan seperti musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) dan kegiatan lainya. Kepala sekolah juga mencoba membina suasana kekeluargaan dengan melakukan berbagai kegiatan seperti gotong royong, senam bersama, mengembangkan sikap trasparan dan saling berkomunikasi dan sebagainya.
Akan tetapi imformasi lain dari keberhasilan pendidikan Kota Bekasi, ada data yang mengembirakan dari Dewan Pendidikan Kota Bekasi bahwa tingkat kelulusan ujian nasional tahun ajaran 2010/2011 mengalami peningkatan yang pesat, sebagai diungkap oleh Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Bekasi Hj Junarsih :
Tingkat kelulusan Ujian Nasional (UN) SMP/MTs Tahun 2010/2011 di Kota Bekasi adalah 99,99 %, dari jumlah peserta UN SMP/MTs Tahun 2010/2011 di Kota Bekasi sebanyak 31.510 siswa, dengan catatan hanya 1 (satu) orang siswa saja yang tidak lulus, yakni siswa dari SMP Al-Ikhlas Kaliabang Dukuh.  Bila kita simak tingkat kelulusan tahun ini mengalami peningkatan luar biasa dibandingkan dengan UN SMP/MTs Tahun 2009/2010 di Kota Bekasi (98,73 %) dari jumlah peserta UN SMP/MTs Tahun 2009/2010 di Kota Bekasi (30.898 siswa). [6]
Efektivitas kerja guru di Kota Bekasi mengalami peningkatan yang luar biasa hal ini terlihat dari data di atas dimana prosentase ketidak lulusan 1,27 % dalam waktu satu tahun angka ketidak lulusan dapat perkecil menjadi 0,01 %, angka itu menujukkan tinggi efektivitas kerja guru di Bekasi. Dari 30.898 siswa peserta ujian nasional hanya satu siswa yang tidak lulus.
Bertolak dari uraian diatas, penulis termotivasi untuk mengangkat masalah pengaruh supervisi dan iklim organisasi dengan efektifitas kerja guru SMP Negeri Kota Bekasi.
B.  Identifikasi Masalah
Efektifitas kerja guru dalam melaksanakan tugas mengajar sehari-hari disekolah dipengaruhi oleh berbagai faktor baik faktor yang bersipat internal ataupun eksternal, faktor internal seperti pengetahuan guru terhadap tugasnya, peningkatan pengetahuan guru dengan tugasnya dapat dilakukan dengan supevisi, faktor peningkatan SDM guru dan peningkatan kinerja, faktor eksternal seperti struktur organisasi yang rapi, hubungan kerja antar anggota yang teratur, lingkungan kerja yang nyaman dan terpenuhinya kebutuhan fisik dan material
C.  Pembatasan Masalah
Identifikasi masalah yang dikemukakan diatas menunjukkan bahwa efektivitas kerja guru dipengaruhi oleh berbagai faktor baik internal maupun eksternal. Mengingat keterbatasan waktu, tenaga dan biaya serta kemampuan penulis untuk meneliti semua faktor-faktor tersebut maka penelitian ini dibatasi pada faktor kualitas supervisi sebagai variabel bebas (X1) dan iklim organisai sebagai variabel bebas (X2) yang diduga berpengaruh terhadap efektifitas kerja guru sebagai variabel terikat (X3).
D.  Perumusan Masalah.
Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah dan pembatasan masalah  yang dikemukakan maka permasalahan yang akan di bahas dalam penelitian ini adalah:
1.         Apakah ada pengaruh supervisi terhadap efektifitas kerja guru ?
2.         Apakah ada pengaruh iklim organisasi terhadap efektifitas kerja guru ?
3.         Apakah ada pengaruh supervisi terhadap iklim organisasi?.
E.  Kegunaan Hasil Penelitian.
Penelitian ini diharapkan dapat menggali unsur-unsur yang berpengaruh kepada efektifitas kerja guru. Jika ternyata dari penelitian ini dapat membuktikan secara empirik bahwa terdapat pengaruh antara kulitas supervisi dan iklim organisasi terhadap efektifitas kerja guru maka :
1.             Secara teoritis, dapat memperkuat khasanah keilmuan dalam bidang manajemen pendidikan.
2.             Hasil penelitian ini diharapkan juga dapat memberikan masukkan langsung kepada kepala sekolah dan pengawas pendidikan sebagai bahan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab, serta sebagai bahan evaluasi, agar dapat melaksanakan tugasnya lebih baik dimasa depan.
3.             Secara praktis dapat diterapkan kedalam proses kegiatan yang memiliki daya guna praktis sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
4.             Sebagai bahan kajian dan informasi bagi peneliti yang ingin melakukan penelitian dibidang manajemen pendidikan.








[1] H.A.R.Tilaar;Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional Dalam Perspektif Abad 21 (Magelang:Tera Indonesia,1998),h.14.
[2] Oemar Hamalik, Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi (Jakarta:PT.Bumi Aksara ,2002) , h.v.
[3] Miarso,Y. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. (Jakarta: Pustekkom Diknas & Kencana,2004)
[4] http://edukasi.kompasiana.com/2011/04/18/ujian-nasional-untuk-apa-kualitas-anak-didik-di-tanah-air-tetap-renda

[5] Kinball Wiles dan John T. Lovell, Supervision For Better schools ( New Jersey,Prentice-Hal,Inc,1975),h.3.
[6]http://dewanpendidikankotabekasi.blogspot.com/2011/06/kelulusan-ujian-nasional-smpmts-tahun.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar